BACA BERITA

Gejolak di Bursa AS: Investor Cemas, Ancaman Resesi Meningkat

Author: matauang Category: Politik
Jakarta, Indonesia -- Pasar saham Amerika Serikat (Wall Street) mengalami penurunan tajam menjelang pengumuman kebijakan kenaikan tarif oleh Presiden AS Donald Trump pada Rabu (2/4). Trump sendiri menyebut hari tersebut sebagai "Liberation Day" atau "Hari Pembebasan". Penurunan ini mengakibatkan kuartal pertama tahun ini menjadi yang terburuk dalam beberapa tahun terakhir.

Dilaporkan oleh CNN pada Senin (31/3), indeks acuan S&P 500 turun 4,6 persen sepanjang tahun, mencatat awal tahun terburuk sejak 2022 dan kuartal terburuk sejak September 2022. S&P 500 sempat merosot hingga 1,65 persen di pagi hari sebelum akhirnya naik 0,55 persen saat penutupan. Sementara itu, indeks Dow Jones berhasil bangkit dan ditutup lebih tinggi sebesar 418 poin atau 1 persen setelah sempat dibuka rendah.

Di sisi lain, indeks Nasdaq mengalami penurunan 0,14 persen setelah sebelumnya sempat anjlok hingga 2,7 persen di pagi hari, mencapai level terendah sejak September lalu. Penurunan Nasdaq dipicu oleh melemahnya saham Tesla, Nvidia, dan saham teknologi lainnya yang memiliki pengaruh besar.

Kekhawatiran Ekonomi Global

Saham di seluruh dunia juga mengalami penurunan akibat ketidakpastian kebijakan tarif Trump. Para ekonom memperingatkan bahwa tarif besar yang akan diberlakukan dapat memicu inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi. Wall Street pun dilanda ketidakpastian karena Trump belum mengumumkan secara spesifik besaran tarif yang akan diterapkan.

Menurut analisis Goldman Sachs, ekonomi AS berisiko semakin tinggi mengalami resesi akibat kebijakan tarif ini. Peningkatan tarif dinilai dapat menghambat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan pengangguran, dan memicu inflasi. Bank tersebut bahkan menaikkan estimasi risiko resesi AS dalam 12 bulan ke depan menjadi 35 persen, dari sebelumnya 20 persen.

Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, juga merespons negatif dengan penurunan hampir 4 persen sejak awal tahun. Ini menjadi awal tahun terburuk bagi dolar AS sejak 2016.

Tarif "Timbal Balik" Trump

Trump dijadwalkan mengumumkan kebijakan tarif "timbal balik" pada Rabu (2/4) waktu setempat. Ia berencana mengenakan tarif terhadap biaya yang dianggap membebani AS dalam perdagangan global. Namun, belum ada informasi rinci mengenai sektor atau produk apa saja yang akan terdampak oleh kebijakan ini.

Ketidakpastian seputar kebijakan tarif Trump membuat para ahli strategi pasar merevisi perkiraan mereka terhadap pergerakan saham AS di masa mendatang.