Jakarta,
Indonesia — Korban jiwa akibat gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang Myanmar pada Jumat (28/3) diprediksi bisa melebihi 10 ribu orang.
Menurut laporan CNN pada Sabtu (29/3), Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) memperkirakan jumlah korban akan terus meningkat dan telah mengeluarkan peringatan merah yang menunjukkan potensi "jumlah korban tinggi dan kerusakan luas."
Jumlah Korban Terus Bertambah
Pada Jumat (28/3) malam, junta militer Myanmar mengumumkan bahwa jumlah korban tewas telah mencapai 144 orang. Namun, CNN melaporkan angka ini berpotensi terus meningkat seiring dengan proses evakuasi dan penyingkiran puing-puing yang masih berlangsung.
Gempa ini dirasakan kuat hingga ke Thailand dan China. Warga di Bangkok serta wilayah selatan Thailand berlarian menyelamatkan diri. Sementara itu, Pusat Jaringan Gempa China (China Earthquake Networks Center/CENC) melaporkan getaran terasa di Yunnan, barat daya China.
Status Darurat Ditetapkan
Junta militer Myanmar telah menerapkan status darurat di beberapa wilayah, termasuk Sagaing, Mandalay, Bago, Shan bagian timur, dan Magway. Status darurat juga diberlakukan di ibu kota Naypyidaw, tempat tinggal para pemimpin tertinggi junta.
Perdana Menteri Thailand, Paetongtarn Shinawatra, turut mengumumkan status darurat di Bangkok, sebagaimana dilaporkan oleh AFP.
Rumah Sakit Kewalahan
Di Naypyidaw, rumah sakit utama yang memiliki 1.000 tempat tidur dilaporkan kewalahan menangani para korban. Banyak pasien terpaksa dirawat di luar gedung karena kapasitas rumah sakit yang penuh. Beberapa korban tampak merintih kesakitan, sementara yang lain dalam kondisi kritis.
Permohonan Bantuan Internasional
Junta militer Myanmar telah meminta bantuan kemanusiaan dari komunitas internasional untuk mempercepat penanganan korban gempa.
"Kami ingin komunitas internasional segera memberikan bantuan kemanusiaan," kata juru bicara junta, Zaw Min Tun, saat mendampingi kepala junta Min Aung Hlaing mengunjungi rumah sakit di Naypyidaw.
Zaw juga mengungkapkan bahwa Myanmar sangat membutuhkan donasi darah bagi para korban di Mandalay, Naypyidaw, dan Sagaing.