Idul Fitri merupakan hari kemenangan untuk umat muslim segala dunia. Tidak terkecuali untuk umat muslim Indonesia. Namun, gimana atmosfer Idul Fitri kala rakyat Indonesia masih dijajah Jepang?
Sebagaimana dikenal, Jepang menjajah Indonesia semenjak tahun 1942 sampai 1945. Setelah itu, semacam dilansir dari novel Di Dasar Matahari Terbit karya Nino Oktorino, pada tahun 1942 Perang Pasifik, yang pula diketahui selaku Perang Asia Timur Raya rusak.
Indonesia, yang dikala itu jadi jajahan Jepang, turut ikut serta dalam Perang Pasifik ini. Jepang juga membentuk Tentara Sukarela Pembela Tanah Air ataupun Peta.
Inilah salah satu masa penderitaan untuk warga Indonesia. Telah dijajah, masih wajib ikut serta perang pasifik.
Kendati demikian, penderitaan ini tidak menyurutkan semangat beribadah umat muslim Indonesia. Terlebih Jepang pula membagikan keleluasaan untuk rakyat Indonesia buat memperingati Idul Fitri.
Rakyat Indonesia di Jakarta dikala itu berbondong- bondong melakukan salat Idul Fitri di Lapangan Ikada pada 1 Oktober 1943. Lapangan Ikada saat ini berganti jadi jalur Medan Merdeka yang tercantum dalam kawasan Monas.
Momen salat Idul Fitri ini salah satunya terekam dalam laporan majalah Pandji Poestaka edisi 1943. Arsip majalah ini ialah Koleksi Bibliotek Nasional RI.
Dalam laporan itu, disebutkan kalau warga melakukan salat Idul Fitri di Lapangan Ikada dengan simpel. Karena, atensi warga dikala itu lagi tersedot oleh atmosfer Perang Pasifik. Belum lagi, rakyat Indonesia belum menggapai kemenangannya buat merdeka.
Walaupun simpel, Lapangan Ikada dipadati oleh jemaah yang melakukan salat Idul Fitri. Dilaporkan kalau warga pula khusyuk menyimak khotbah sehabis salat id.
Saat ini, umur kemerdekaan Indonesia sudah menggapai 79 tahun. Momen salat Idul Fitri tahun 1943 ini jadi pengingat kalau bangsa ini sempat melewati masa yang penuh kesengsaraan. Namun perihal tersebut tidak mematahkan semangat rakyat Indonesia buat memperingati hari kemenangan di Idul Fitri.