Matauang.com, Jakarta - Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi ( BPH Migas ) menyatakan hadirnya transisi energi dalam penyediaan distribusi energi menandakan sektor energi peka dalam merespon kebutuhan masyarakat global.
Sekretaris Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Patuan Alfon Simanjuntak mengatakan berbagai upaya telah dilakukan untuk mewujudkan transisi tersebut dengan pemanfaatan energi alternatif, termasuk pengembangan biodiesel.
Menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, mandatori pemanfaatan biodiesel 35 persen atau B35 telah menghemat devisa sebesar Rp120,54 triliun.
"Ini sesuai dengan visi Presiden (Prabowo), karena kita tahu kita mengikuti visi dan misi beliau. Tahun depan mungkin juga sudah mencapai B40," kata Alfon dalam diskusi bertajuk 'Kolaborasi Transisi Energi: Membangun Ekosistem Hilir Migas yang Adaptif dan Inovatif' di kantor BPH Migas, Jakarta Selatan, pada Jumat, 6 Desember 2024.
Alfon optimistis pada 2025, pemanfaatan biodiesel tidak hanya menghemat devisa negara, tetapi juga mengurangi impor yang pada gilirannya akan mendukung ketersediaan energi dalam negeri.
"Sehingga ketersediaan energi kita bisa tercapai sendiri atau dalam artian kemandirian energi," ujarnya.
Lebih lanjut, untuk transisi energi ini, Alfon mengatakan ada beberapa langkah penting yang harus dilakukan, salah satunya adalah pembangunan infrastruktur. Ia menegaskan pemerintah perlu memperluas dan membangun infrastruktur untuk mendukung pemanfaatan energi baru terbarukan.
Menurut Alfon, inovasi teknologi juga diperlukan untuk meningkatkan efisiensi energi. Selain itu, pemerintah perlu menerapkan kebijakan yang mendukung penggunaan energi terbarukan, seperti insentif fiskal, subsidi energi bersih, dan pajak karbon.