BACA BERITA

Ekonom Peringatkan Risiko PHK di Indonesia di Tengah Tarif Dagang Trump

Author: matauang Category: Keuangan
Matauang.com, Jakarta - Kebijakan tarif baru Presiden Amerika Serikat Donald Trumptelah menimbulkan kekhawatiran di kalangan sejumlah ekonom di Indonesia. Tarif dasar impor, serta tarif timbal balik yang ditetapkan oleh regulator dari negara Merah Putih, dapat berdampak negatif terhadap perekonomian dan bahkan sektor ketenagakerjaan.

Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengungkapkan, pangsa pasar ekspor Indonesia ke AS mencapai 10,3 persen per tahun, menjadikannya terbesar kedua setelah ekspor Indonesia ke China.

Kepala Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi INDEF, Andry Satrio Nugroho, menyatakan tarif impor baru Trump dapat memengaruhi nasib jutaan pekerja dalam negeri. Eksportir komoditas unggulan, seperti tekstil, alas kaki, elektronik, furnitur, dan produk pertanian, akan menghadapi biaya tinggi. Selain itu, lebih dari 30 pabrik di sektor tekstil dan turunannya telah tutup dalam tiga tahun terakhir.

"Jika pemerintah tetap bungkam, kita tidak hanya akan kehilangan pasar utama, tetapi juga akan menghadapi gelombang PHK yang jauh lebih besar dan berkelanjutan," kata Andry dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 3 April 2025.

Trump mengumumkan kebijakan tarif impor pada hari Rabu, 2 April. Ia mengenakan tarif minimum 10 persen pada semua produk yang masuk ke AS dari semua negara. AS akan mengenakan tarif 32 persen pada komoditas impor dari Indonesia, sehingga menempatkannya pada posisi kedelapan sebagai negara dengan tarif tertinggi yang diterima.

Tarif timbal balik tambahan, yang sekarang ditetapkan lebih tinggi menurut Trump, digambarkan sebagai respons terhadap beberapa negara mitra dagang, termasuk Indonesia. Tarif tambahan tersebut diperkirakan akan menyebabkan ekspor Indonesia ke AS menurun.

Senada dengan Andry, Syafruddin Karimi, Dosen Jurusan Ekonomi Universitas Andalas, menyebutkan tarif sebesar 32 persen yang ditetapkan Trump akan menurunkan daya saing ekspor secara drastis, terutama di sektor padat karya. Produk seperti kain, furnitur, dan alas kaki sangat bergantung pada harga yang kompetitif di pasar AS.

“Tarif tinggi ini akan menaikkan harga jual, mendorong pembeli beralih ke negara lain, dan memicu risiko PHK massal di dalam negeri,” katanya.

Jika kebijakan Trump lambat ditanggapi, katanya, potensi kontraksi ekspor Indonesia akan berdampak langsung pada sektor ritel. "Padahal, sektor ekspor nonmigas merupakan salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja," kata Syafruddin.

Ekonom dari Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, juga menyatakan bahwa regulasi tarif perdagangan Trump akan memengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ia bahkan menyebutkan bahwa target pertumbuhan ekonomi tahun ini sudah tidak realistis lagi. Kondisinya bisa menjadi kritis setelah terhantam regulasi baru AS.

"Mengingat ekspor kita ke AS didominasi oleh produk industri padat karya seperti sepatu, tekstil dan produk tekstil, produk karet, serta barang listrik dan elektronik," kata Wijayanto. "Tekanan PHK akan semakin kuat."

Dalam pernyataan resmi yang dikutip dari situs resmi Gedung Putih pada 2 April 2025, Trump mengungkapkan alasannya, menyebut negara lain memanfaatkan AS.

Indonesia dan Brasil, menurut Trump, dinyatakan memiliki bea masuk impor etanol yang lebih tinggi daripada AS Trump yang secara resmi kembali ke Gedung Putih menjelang akhir Januari lalu juga menyoroti kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) Indonesia, perizinan impor, dan devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA) yang dikenakan Indonesia.

Menurut lembar fakta Gedung Putih, Indonesia mempertahankan persyaratan konten lokal di seluruh komoditas untuk banyak sektor, sebuah rezim perizinan impor yang rumit. Indonesia mengharuskan perusahaan sumber daya alam untuk menahan pendapatan ekspor di negara tersebut untuk transaksi senilai US$250.000 atau lebih.